Mencari Diri Sendiri: Ikhtiar Menjadi Pribadi yang Sholeh, Kaya, dan Berwibawa

Baca Juga

 Ada fase dalam hidup ketika seseorang berhenti sejenak, menatap cermin lebih lama, lalu bertanya: siapa sebenarnya diri ini, dan ke mana arah yang ingin dituju? Fase itu bukan krisis. Ia adalah kesadaran. Kesadaran bahwa hidup perlu ditata ulang, bukan sekadar dijalani.

Mencari diri sendiri berarti berani membongkar kebiasaan lama, menyusun ulang prioritas, dan menegaskan kembali visi hidup. Ia adalah proyek jangka panjang yang menyentuh ruhani, intelektual, profesional, hingga karakter pribadi.


Memperbaiki Habit: Fondasi dari Segala Perubahan

Perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang konsisten.

1. Memperbaiki Ibadah

Sholat tepat waktu, memperbanyak tilawah, rutin bersedekah, dan memperkuat kualitas doa. Ibadah bukan sekadar kewajiban, melainkan pusat energi kehidupan. Ketika hubungan dengan Allah kokoh, keputusan menjadi lebih tenang dan arah hidup lebih jelas.

Iktikaf yang lebih sering melatih keheningan batin. Sholat istikharah yang rutin menumbuhkan ketundukan pada pilihan terbaik dari Allah. Silaturahmi tanpa pamrih menguatkan ukhuwah dan membersihkan niat. Semua itu membentuk hati yang lapang dan tidak mudah goyah.

Target melancarkan dan mendhobit 12 juz—satu bulan satu juz—dengan pengulangan 20–40 kali per halaman setiap hari, adalah latihan disiplin ruhani yang luar biasa. Ia bukan sekadar hafalan, melainkan proses pembentukan karakter sabar dan tekun.

2. Makan Sehat dan Rutin Olahraga

Tubuh adalah amanah. Pola makan yang baik dan olahraga teratur menjaga stamina untuk berpikir jernih dan bekerja maksimal. Energi fisik yang stabil mendukung konsistensi ibadah dan produktivitas akademik maupun bisnis.

3. Disiplin Waktu

Waktu untuk kerja, keluarga, dan diri sendiri harus memiliki batas yang jelas. Profesionalisme tumbuh dari manajemen waktu yang rapi. Keharmonisan keluarga terjaga ketika hadir sepenuhnya. Ketenangan pribadi muncul saat ada ruang refleksi.


Selesai Kuliah: Dari Mahasiswa ke Calon Dosen Riset

Menuntaskan studi bukan akhir, melainkan gerbang baru. Menguasai Histogram of Oriented Gradients (HOG) dan Support Vector Machine (SVM) dalam konteks machine learning adalah bekal akademik yang strategis, terutama di bidang computer vision dan riset kecerdasan buatan.

Pemahaman mendalam terhadap metode klasik seperti HOG dan SVM melatih ketelitian matematis dan fondasi teoretis yang kuat sebelum melangkah ke model yang lebih kompleks. Target berikutnya jelas: menjadi dosen riset yang produktif, berkontribusi pada publikasi ilmiah, dan melahirkan karya akademik yang bermanfaat.

Tiga jurnal terbit dan satu buku tentang Sains dan Islam menjadi bagian dari branding intelektual yang elegan—bukan pamer, melainkan kontribusi nyata.


Tentang Kerjaan: Membangun Sistem, Bukan Sekadar Proyek

Dalam dunia profesional, pertumbuhan menuntut sistem yang kokoh.

Menambah jasa sistem informasi membuka peluang baru:

  • Rekrutmen partner yang sevisi.

  • Perbaikan sistem marketing dan sales.

  • Konsistensi unggah portofolio website, logo, desain, serta dokumentasi klien.

Brand dibangun dari rekam jejak, bukan klaim. Portofolio yang tertata rapi menjadi wajah profesional yang berbicara sendiri.

Persiapan membesarkan WafiqTechCompany harus berbasis perencanaan matang: struktur tim, SOP, standar kualitas, serta positioning yang jelas di pasar. Perusahaan yang tumbuh adalah perusahaan yang memiliki visi, bukan sekadar ambisi.


Merubah Karakter: Inti dari Kepemimpinan Diri

Perubahan sejati terletak pada karakter.

  • Menjaga lisan: berkata baik atau diam.

  • Menghindari show off: karya berbicara lebih lantang daripada promosi diri.

  • Tidak mudah mengiyakan permintaan: memberi jeda untuk berpikir dan memutuskan.

  • Tidak tergoda ekspektasi orang lain: fokus pada ikhtiar dan tawakal.

  • Lebih privat: menyimpan banyak hal untuk diri dan Allah, menjaga kedalaman batin.

  • Melatih fokus, meninggalkan multitasking.

  • Hidup lebih hemat.

  • Menyelesaikan pekerjaan tanpa menunda.

Karakter seperti ini melahirkan wibawa. Wibawa tidak dibangun dari suara keras, melainkan dari integritas yang konsisten.


Penutup: Sholeh, Kaya, Berwibawa

Menjadi sholeh adalah orientasi spiritual.
Menjadi kaya adalah orientasi ikhtiar dan profesionalisme.
Menjadi berwibawa adalah hasil dari kedalaman ilmu dan kematangan karakter.

Ketiganya dapat berjalan beriringan ketika hidup ditata dengan kesadaran, disiplin, dan doa. Mencari diri sendiri bukan perjalanan singkat. Ia adalah proses seumur hidup—menguatkan ibadah, memperbaiki kebiasaan, menata karier, dan membangun karakter.

Di sanalah seseorang menemukan versi terbaik dari dirinya: pribadi yang tenang, produktif, dan penuh keberkahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Theme by Gus Fahmi

© 2014-2023 Home | About | Privacy